
Penelitian ini menganalisis status keberlanjutan daerah tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari aspek ekonomi, sosial, dan ekologi menggunakan metode Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) untuk merumuskan strategi pengentasannya. Berdasarkan data sekunder dari Kemendesa dan BPS, hasil studi menunjukkan bahwa dimensi ekonomi memiliki status keberlanjutan yang paling buruk (hanya 3 kabupaten yang berstatus baik) dibandingkan dimensi sosial (7 kabupaten baik) dan ekologi (11 kabupaten baik). Dengan mengidentifikasi indikator paling berpengaruh—seperti elektrifikasi, partisipasi sekolah, dan kerawanan bencana—peneliti merekomendasikan strategi pengentasan daerah tertinggal melalui pengarusutamaan program intervensi pada kabupaten yang memiliki nilai keberlanjutan tinggi di dua dimensi sekaligus, serta mengintegrasikannya ke dalam perencanaan pembangunan daerah yang berfokus pada atribut-atribut kunci tersebut.